Cerita Santri Kalong di Masjid Nurul Yaqintengku

Dunia pesantren memiliki keberagaman model pendidikan yang sangat kaya, mulai dari sistem asrama penuh hingga model yang lebih fleksibel. Di wilayah pesisir yang kental dengan nuansa religius, muncul sebuah fenomena unik yang dikenal dengan istilah santri kalong. Berbeda dengan santri mukim yang menetap di asrama, para pembelajar ini biasanya datang saat matahari terbenam untuk menimba ilmu dan kembali ke rumah masing-masing setelah fajar menyingsing atau pengajian selesai. Di sebuah pusat syiar bernama Masjid Nurul Yaqintengku, tradisi ini tetap lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat setempat.

Keberadaan masjid ini bukan sekadar tempat ibadah salat lima waktu, melainkan telah bertransformasi menjadi laboratorium ilmu bagi warga sekitar. Setiap malam, suasana di selasar masjid berubah menjadi riuh dengan suara lantunan ayat suci dan diskusi kitab kuning. Dinamika cerita yang terbangun di sana sangat menyentuh; mereka adalah para pemuda, pekerja kasar, hingga kepala keluarga yang rela membagi waktu antara mencari nafkah dan memenuhi dahaga spiritual. Model pendidikan “kalong” ini memungkinkan siapa pun, tanpa memandang status pekerjaan atau usia, untuk tetap mendapatkan akses pendidikan agama yang otoritatif tanpa harus meninggalkan kewajiban sosial di rumah.

Aktivitas di Masjid Nurul Yaqintengku dimulai tepat setelah salat Magrib. Para santri kalong ini biasanya datang dengan mengenakan sarung dan peci sederhana, membawa kitab-kitab yang sudah mulai menguning kertasnya. Mereka duduk melingkar (halaqah) di bawah bimbingan ustadz yang dengan sabar membacakan bait demi bait teks klasik. Di sinilah letak keistimewaannya; meski tidak menetap di asrama, kedisiplinan dan ketulusan mereka dalam belajar tidak kalah dengan santri reguler. Mereka memahami bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban yang tidak mengenal batas waktu, dan masjid ini menjadi rumah kedua bagi jiwa-jiwa yang haus akan bimbingan cahaya Illahi.

Salah satu fragmen menarik dari kehidupan para pejuang ilmu ini adalah bagaimana mereka menjaga stamina di tengah kelelahan bekerja di siang hari. Ada semangat yang luar biasa ketika melihat seorang buruh tani atau nelayan yang seharian bekerja keras, namun tetap mampu berkonsentrasi mendengarkan penjelasan tentang hukum-hukum fikih atau tata bahasa Arab. Lingkungan di Nurul Yaqintengku memang didesain sangat inklusif, sehingga tidak ada rasa minder di antara mereka. Solidaritas antar-santri kalong sangat kuat, sering kali mereka berbagi bekal sederhana atau sekadar berdiskusi santai di serambi masjid saat waktu istirahat tiba, mempererat tali ukhuwah islamiyah di antara warga desa.

Author: