Dalam program tahfiz di pesantren, metode Sorogan memainkan peran sentral, mengubah proses menghafal Al-Qur’an dari tugas massal menjadi sebuah perjalanan spiritual yang terfokus dan personal. Sorogan adalah esensi dari Bimbingan Personal, di mana setiap santri berinteraksi langsung dengan Kiai atau Ustadz untuk menyetorkan dan mengoreksi hafalan mereka. Bimbingan Personal ini menjadi kunci utama yang membawa santri dari tahap awal menghafal hingga mencapai tingkat Mutqin (hafal sempurna dan kokoh). Melalui Bimbingan Personal Sorogan, kualitas hafalan (hifzh) dan ketepatan bacaan (tajwid) setiap santri dipastikan terjaga dengan standar tertinggi.
Peran Sorogan dalam tahfiz Al-Qur’an sangat krusial karena tuntutan presisi yang tinggi. Berbeda dengan hafalan biasa, hafalan Al-Qur’an harus benar dalam setiap huruf, harakat, dan hukum tajwid-nya. Dalam sesi Sorogan, santri membacakan satu atau beberapa halaman hafalan di hadapan penguji. Penguji tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mengoreksi kesalahan sekecil apa pun, mulai dari panjang pendek bacaan (mad) hingga tempat keluarnya huruf (makharijul huruf). Proses koreksi tatap muka ini memastikan bahwa kesalahan tidak berlanjut dan mengakar. Data Pengujian Hafalan Fiktif yang dilakukan oleh Tim Tahfizh Pesantren Darul Huffazh pada Sabtu, 21 September 2024, mencatat bahwa $95\%$ (fiktif) kesalahan tajwid santri terdeteksi dan dikoreksi langsung melalui sesi Sorogan.
Tujuan akhir dari Bimbingan Personal ini adalah mencapai level Mutqin. Mutqin berarti hafalan yang tidak hanya selesai 30 juz, tetapi juga mampu dibaca secara lancar, tanpa ragu, dan tanpa kesalahan, bahkan ketika diuji dari berbagai arah (random test). Proses mencapai Mutqin ini memakan waktu yang lama, di mana setelah menyelesaikan hafalan 30 juz (yang rata-rata membutuhkan waktu tiga hingga empat tahun), santri harus menjalani tahap tasmi’ (mengulang seluruh hafalan) di bawah pengawasan Kiai.
Selain aspek teknis hafalan, Sorogan juga menguatkan ikatan spiritual antara santri dan Al-Qur’an melalui bimbingan guru. Tatapan Kiai dan teguran yang penuh adab memberikan motivasi spiritual yang mendalam, membantu santri mengatasi rasa putus asa dan kemalasan. Dengan kombinasi disiplin tinggi, tanggung jawab personal, dan Bimbingan Personal yang intensif, metode Sorogan telah terbukti efektif mencetak para Hafizh (penghafal Al-Qur’an) yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak mulia.