Pondok pesantren di Indonesia kini tidak lagi hanya fokus pada satu tujuan pendidikan. Seiring berjalannya waktu, banyak pesantren mengadopsi model dualisme, berupaya simultan mencetak ulama yang mendalami ilmu agama sekaligus profesional yang siap berkiprah di berbagai sektor industri. Pendekatan ini merupakan jawaban atas kebutuhan masyarakat modern yang menginginkan generasi muda berakhlak mulia dan memiliki kompetensi global.
Tradisi awal pesantren memang bertujuan utama mencetak ulama yang ahli dalam ilmu-ilmu agama Islam klasik melalui kajian kitab kuning. Namun, seiring dengan tuntutan zaman, banyak pesantren mulai menyadari bahwa lulusan juga perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan umum dan keterampilan yang relevan dengan pasar kerja. Integrasi kurikulum madrasah atau sekolah formal ke dalam sistem pesantren menjadi solusi untuk mencapai tujuan ganda ini. Santri kini tidak hanya menguasai fikih dan tafsir, tetapi juga matematika, sains, bahasa Inggris, bahkan teknologi informasi.
Dualisme pendidikan ini terlihat jelas di pesantren-pesantren modern yang menggabungkan pengajian kitab kuning, tahfidz Al-Qur’an, dan pendidikan formal setingkat SMP/MTs dan SMA/MA/SMK. Bahkan, beberapa pesantren besar memiliki perguruan tinggi sendiri yang menawarkan program studi agama maupun umum. Hal ini memungkinkan pesantren untuk mencetak ulama yang juga bisa menjadi seorang insinyur, dokter, ekonom, atau ahli IT.
Sebagai contoh, Pondok Pesantren Terpadu Al-Ikhlas di Jawa Tengah. Sejak tahun akademik 2024/2025, pesantren ini menawarkan dua jalur pendidikan: jalur Tahfidz Plus untuk calon ulama dan penghafal Al-Qur’an, serta jalur Kejuruan yang berkolaborasi dengan industri lokal untuk mencetak tenaga ahli di bidang elektronika dan pengolahan hasil pertanian. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Kiai Haji Abdullah Karim, pada 10 Juli 2024, pukul 11.00 WIB, menyatakan, “Kami ingin santri kami menjadi pribadi yang tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama) sekaligus berdaya guna bagi kemajuan bangsa.”
Dukungan pemerintah juga sangat penting dalam merealisasikan dualisme pendidikan ini. Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, pada 5 Agustus 2024, mengadakan workshop nasional “Revitalisasi Peran Pesantren dalam Pembangunan SDM Unggul” yang dihadiri oleh 400 pengasuh pesantren dari seluruh Indonesia. Bahkan, pihak kepolisian juga turut memberikan pembinaan kepada santri, misalnya, pada 20 Agustus 2024, Kasat Binmas Polres setempat memberikan penyuluhan tentang etika bermedia sosial dan bahaya berita palsu. Dengan demikian, pesantren terus berinovasi untuk mencetak ulama yang juga profesional, membuktikan relevansinya dalam menjawab tantangan zaman dan menyiapkan generasi emas Indonesia.