Dunia pendidikan sering kali menjadi cermin dari realitas sosial yang ada di masyarakat, di mana perbedaan latar belakang ekonomi dan status sosial dapat menjadi sekat yang memisahkan antarindividu. Pondok Pesantren Nurul Yaqin Tengku menyadari bahwa keberagaman latar belakang santri, mulai dari anak keluarga prasejahtera hingga keluarga berada, jika tidak dikelola dengan bijak, dapat memicu potensi konflik atau perasaan rendah diri. Oleh karena itu, lembaga ini secara konsisten berupaya dalam Mengatasi Kesenjangan Sosial melalui berbagai kebijakan yang menekankan pada prinsip kesetaraan dan persaudaraan islami. Pesantren ini meyakini bahwa di hadapan ilmu dan agama, semua santri memiliki kedudukan yang sama sebagai hamba Allah yang sedang berjuang menuntut rida-Nya.
Langkah konkret pertama yang diambil oleh Nurul Yaqin Tengku adalah pemberlakuan standarisasi fasilitas dan kebutuhan harian bagi seluruh santri tanpa terkecuali. Strategi Inklusif ini diwujudkan melalui kebijakan seragam yang sama, menu makanan yang seragam di dapur umum, hingga pembatasan uang saku yang diberikan oleh orang tua. Dengan menghilangkan simbol-simbol kekayaan materi di lingkungan pesantren, potensi munculnya rasa superioritas maupun inferioritas dapat diredam sejak dini. Santri diajarkan untuk menghargai seseorang berdasarkan akhlak dan prestasi akademiknya, bukan berdasarkan merek pakaian atau jumlah uang yang mereka miliki. Hal ini menciptakan atmosfer yang sangat demokratis di mana setiap individu merasa diterima dan dihargai.
Selain kebijakan administratif, pihak Pondok Pesantren juga merancang program kegiatan yang mewajibkan kolaborasi lintas latar belakang. Dalam setiap pembagian kamar asrama, kelompok belajar, hingga tim kebersihan, pengurus sengaja mencampur santri dari berbagai daerah dan strata sosial yang berbeda. Penyatuan ini bertujuan agar mereka dapat saling mengenal, memahami kesulitan satu sama lain, dan membangun empati. Melalui interaksi yang intens dalam kehidupan sehari-hari, sekat-sekat sosial yang mungkin dibawa dari rumah perlahan-lahan runtuh dan digantikan oleh ikatan kekeluargaan yang kuat. Pengalaman hidup berdampingan dalam kesederhanaan menjadi pelajaran berharga tentang hakikat kebersamaan yang sesungguhnya.