Nurul Yaqin Diet Plastik: Belanja Tanpa Kresek di Pasar

Program yang mereka namakan sebagai Nurul Yaqin Diet Plastik ini bukan hanya sekadar anjuran, melainkan sebuah aturan internal yang kemudian diperluas menjadi aksi sosial. Pesantren meyakini bahwa menjaga bumi adalah bagian dari manifestasi iman yang paling nyata. Dalam setiap sesi pengajian, para santri diingatkan bahwa setiap lembar plastik yang mereka buang akan membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, dan selama itu pula plastik tersebut menjadi “sedekah jariyah negatif” yang merusak ciptaan Allah. Kesadaran teologis inilah yang menjadi bahan bakar utama gerakan pengurangan plastik di lingkungan pesantren.

Salah satu aksi yang paling berdampak adalah edukasi mengenai cara Belanja Tanpa Kresek yang dilakukan oleh para santri dan pengurus pesantren saat membeli kebutuhan logistik dapur. Setiap kali berangkat ke pasar, para santri dibekali dengan keranjang bambu, tas kain (tote bag), dan wadah plastik guna ulang (container) untuk membungkus bahan makanan basah seperti ikan atau daging. Awalnya, tindakan ini dianggap aneh oleh para pedagang pasar, namun konsistensi para santri dalam menolak kantong plastik mulai menarik perhatian dan menjadi bahan pembicaraan positif di masyarakat sekitar.

Praktik di Pasar tradisional ini kemudian berkembang menjadi kampanye dialogis. Santri tidak hanya membawa wadah sendiri, tetapi juga membagikan tas belanja kain kepada para pengunjung pasar lainnya sambil menjelaskan bahaya mikroplastik bagi kesehatan manusia. Nurul Yaqin ingin meruntuhkan persepsi bahwa belanja tanpa plastik itu merepotkan. Sebaliknya, mereka menunjukkan bahwa dengan sedikit persiapan, kita bisa berbelanja dengan lebih bersih, lebih tertata, dan yang terpenting, tidak meninggalkan tumpukan sampah setelah sampai di rumah.

Di lingkup internal pesantren, program Nurul Yaqin ini diterapkan secara ketat. Koperasi pesantren tidak lagi menyediakan kantong kresek untuk setiap transaksi. Para santri yang ingin berbelanja diwajibkan membawa tas sendiri atau menggunakan sistem pinjam tas kain yang disediakan oleh koperasi. Selain itu, penggunaan plastik untuk pembungkus makanan di area kantin juga mulai digantikan dengan daun pisang atau piring permanen. Transformasi ini menciptakan sebuah budaya baru di mana penggunaan plastik sekali pakai dianggap sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman dan tidak mencerminkan akhlak santri yang peduli pada alam.

Author: