Pelaksanaan pentas puisi ini menjadi momen yang sangat emosional bagi seluruh warga pesantren. Para santri membacakan karya-karya orisinal mereka dengan penuh penghayatan, diiringi instrumen musik yang syahdu. Tema-tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari isu kemanusiaan di Palestina, kelestarian lingkungan, hingga pentingnya toleransi di tengah keberagaman bangsa. Melalui puisi, mereka menunjukkan bahwa pesantren adalah tempat yang sangat peduli terhadap isu-isu global. Santri bukan hanya sosok yang asyik dengan dirinya sendiri, tetapi mereka adalah bagian dari warga dunia yang aktif menyuarakan kebenaran.
Narasi yang dibangun oleh para santri Nurul Yaqin ini menekankan pada kekuatan doa dan kata-kata sebagai alat untuk melakukan perubahan. Mereka percaya bahwa suara hati santri yang tulus memiliki energi positif yang dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat baik. Puisi-puisi tersebut sering kali mengutip nilai-nilai universal dalam Islam yang menjunjung tinggi keadilan dan kasih sayang bagi alam semesta. Pendekatan sastra ini menjadi jembatan komunikasi yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan Islam yang moderat dan menyejukkan kepada masyarakat luas yang mungkin memiliki latar belakang budaya yang berbeda.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menyebarkan pesan kedamaian dunia di tengah situasi global yang sering kali penuh dengan konflik dan ketegangan. Sastra dianggap mampu menembus batas-batas politik dan ideologi untuk menyentuh rasa empati manusia yang paling dasar. Para santri diajarkan bahwa seorang penulis atau penyair memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga harmoni di tengah masyarakat. Dengan memilih kata-kata yang membangun daripada menghancurkan, mereka sedang mempraktikkan dakwah bil lisan dalam bentuk yang paling estetik dan menyentuh hati.
Selain pementasan di atas panggung, kumpulan puisi karya santri ini juga dibukukan dan diterbitkan secara digital. Hal ini dilakukan agar pesan-pesan yang disampaikan dapat dibaca oleh audiens yang lebih luas dan abadi dalam bentuk tulisan. Proses kreatif menulis puisi ini juga menjadi sarana literasi yang sangat baik di pesantren. Santri diajarkan untuk memperkaya kosa kata, mengasah imajinasi, dan berpikir kritis terhadap realitas sosial yang ada di sekitar mereka. Kemampuan menulis ini akan menjadi modal yang sangat penting bagi mereka untuk menjadi intelektual Muslim yang mampu berdialektika di ruang publik secara santun.