Dalam bangunan agama Islam, akidah menempati posisi yang paling mendasar layaknya akar bagi sebuah pohon atau fondasi bagi sebuah gedung. Tanpa pemahaman ketuhanan yang kokoh, amalan lahiriah seseorang akan kehilangan ruhnya. Di lembaga pendidikan Nurul Yaqintengku, pengajaran mengenai Pentingnya Akidah Sanusi menjadi materi inti yang diberikan kepada setiap tingkat pendidikan. Kitab Ummul Barahin karya Imam As-Sanusi dipilih karena kemampuannya dalam menyajikan konsep ketuhanan secara logis, sistematis, dan mendalam, sehingga mampu membentengi hati santri dari berbagai keraguan intelektual di era modern.
Mempelajari Akidah Sanusi di lingkungan Nurul Yaqintengku diawali dengan pengenalan terhadap sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah serta para Rasul-Nya. Metodologi yang digunakan dalam kitab ini sangat unik karena menggabungkan dalil naqli (Al-Quran dan Hadis) dengan dalil aqli (logika rasional). Hal ini sangat efektif untuk memperkuat pondasi iman santri agar mereka tidak hanya percaya karena ikut-ikutan (taklid), tetapi percaya karena memahami alasan logis di baliknya. Santri dilatih untuk berpikir bahwa keteraturan alam semesta ini mustahil terjadi tanpa adanya Pencipta yang memiliki sifat kesempurnaan mutlak.
Proses edukasi di Nurul Yaqintengku menekankan bahwa akidah bukan sekadar hafalan butir-butir sifat dua puluh. Lebih dari itu, ia adalah perangkat untuk memandang dunia. Dengan memahami sifat Wahdaniyah (Keesaan) Allah, seorang santri belajar untuk tidak menggantungkan harapannya kepada makhluk, yang pada gilirannya akan melahirkan kemandirian mental dan keberanian moral. Di sinilah letak relevansi ajaran klasik ini; ia membentuk karakter manusia yang tangguh, tidak mudah goyah oleh tekanan situasi, dan selalu memiliki orientasi hidup yang jelas di tengah arus globalisasi yang sering kali mengaburkan nilai-nilai tauhid.
Selain aspek teoritis, para pengajar di Nurul Yaqintengku juga mengontekstualisasikan ajaran Sanusi dalam menghadapi tantangan ateisme dan agnostisisme yang mulai merambah dunia digital. Melalui Akidah yang lurus, santri diberikan “perisai” intelektual untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis yang rumit. Mereka diajarkan bagaimana membuktikan eksistensi Tuhan melalui pengamatan terhadap fenomena alam (burhan), sehingga iman yang mereka miliki menjadi iman yang kokoh dan berwawasan luas. Pendidikan di lembaga ini memastikan bahwa setiap lulusannya memiliki keyakinan yang stabil dan tidak mudah terombang-ambing oleh syubhat atau pemikiran yang menyimpang.