Memahami perkembangan Islam di Nusantara tidak lepas dari peran besar kaum sufi yang membawa ajaran agama dengan pendekatan hati dan kedamaian. Di dalam lingkungan Pondok Pesantren Nurul Yaqin, pengkajian mengenai Sejarah & Nilai Kesufian menjadi salah satu materi inti yang menjaga keseimbangan antara syariat dan hakikat. Penelusuran terhadap akar tradisi ini penting agar para santri memahami bahwa beragama bukan hanya soal menjalankan kewajiban fisik, tetapi juga membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs) untuk mencapai kedekatan yang murni dengan Sang Pencipta.
Penelusuran mengenai jejak penyebaran tarekat di lembaga ini membawa kita pada silsilah keilmuan yang bersambung hingga ke para ulama besar di masa lalu. Tarekat, sebagai jalan spiritual yang terorganisir, masuk ke wilayah ini melalui para mubaligh yang mengedepankan akhlakul karimah. Di Nurul Yaqin, sejarah ini diajarkan bukan sekadar sebagai deretan angka tahun, melainkan sebagai kronologi perjuangan para guru dalam menanamkan benih kesalehan di tengah masyarakat. Para santri diajak untuk meneladani kegigihan para pendahulu yang menyebarkan Islam tanpa kekerasan, melainkan dengan keteladanan dan kedalaman rasa.
Di dalam lingkungan Ponpes Nurul Yaqin, praktik kesufian diintegrasikan ke dalam jadwal harian yang sangat disiplin. Nilai-nilai seperti zuhud (tidak diperbudak dunia), qana’ah (merasa cukup), dan tawakal dipraktikkan dalam kehidupan asrama yang sederhana. Hal ini dilakukan untuk membentuk karakter santri yang memiliki ketahanan mental kuat di tengah gempuran konsumerisme modern. Guru-guru di sini menekankan bahwa menjadi seorang sufi bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan memastikan bahwa dunia berada di tangan mereka, bukan di dalam hati mereka.
Kajian tentang Sejarah & Nilai Kesufian juga mencakup pemahaman mengenai berbagai aliran tarekat yang mu’tabarah atau diakui keabsahannya. Santri diberikan wawasan agar memiliki sikap tasamuh atau toleransi yang tinggi terhadap perbedaan amaliyah selama masih berada dalam koridor ahlussunnah wal jamaah. Dengan pemahaman sejarah yang benar, santri tidak mudah menyalahkan praktik keagamaan orang lain, melainkan lebih fokus pada perbaikan diri sendiri. Inilah esensi dari pendidikan sufisme yang inklusif dan menyejukkan bagi lingkungan sekitar.