Pondok pesantren adalah institusi pendidikan yang berpegang teguh pada metode pembelajaran warisan ulama terdahulu. Dalam Sistem Tradisional pesantren, ilmu agama tidak hanya diajarkan, tetapi digali langsung dari sumber-sumber otentik yang telah teruji zaman. Memahami dari mana ilmu agama dikaji dalam Sistem Tradisional ini adalah kunci untuk mengapresiasi kedalaman dan keotentikan pendidikan di pesantren.
Inti dari kajian ilmu agama dalam Sistem Tradisional pesantren adalah kitab kuning. Istilah “kitab kuning” merujuk pada kitab-kitab klasik berbahasa Arab tanpa harakat atau tanda baca, yang ditulis oleh para ulama terdahulu dalam berbagai disiplin ilmu Islam. Kitab-kitab ini mencakup fikih (hukum Islam), akidah (teologi), tafsir Al-Qur’an, hadis, tasawuf (mistisisme Islam), serta ilmu alat seperti Nahwu (sintaksis) dan Shorof (morfologi) yang menjadi kunci untuk memahami teks berbahasa Arab. Santri belajar untuk membaca, memahami, dan menganalisis isi kitab-kitab ini secara mendalam.
Proses pengkajian kitab kuning ini dilakukan melalui dua metode utama:
- Metode Bandongan (Weton): Dalam metode ini, Kyai atau ustadz membaca dan menerjemahkan kitab kuning di hadapan banyak santri sekaligus. Santri menyimak dengan seksama, mencatat makna dan penjelasan yang diberikan Kyai di kitab mereka masing-masing. Metode ini efektif untuk menyampaikan pemahaman umum dan komprehensif dari suatu kitab kepada jumlah santri yang besar. Kyai biasanya akan memberikan pandangan, konteks, dan interpretasi yang telah ia terima dari guru-gurunya, memastikan sanad keilmuan tetap terjaga.
- Metode Sorogan: Ini adalah metode yang lebih personal. Santri secara individu (atau dalam kelompok kecil) membaca dan menyetorkan hafalan atau pemahaman mereka atas bagian tertentu dari kitab kuning di hadapan Kyai atau ustadz. Kyai akan mengoreksi bacaan, menjelaskan lebih lanjut, dan memberikan bimbingan yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman santri. Metode ini sangat krusial untuk memastikan pemahaman mendalam dan akurasi, sekaligus membangun ikatan batin yang kuat antara guru dan murid. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Jurnal Studi Pesantren di Indonesia pada Maret 2025 menyoroti efektivitas metode sorogan dalam membentuk pemahaman komprehensif dan kritis santri terhadap teks-teks klasik.
Selain kitab kuning, ilmu agama juga dikaji dari keteladanan Kyai itu sendiri. Kyai bukan hanya guru yang mengajarkan teori, tetapi juga praktisi yang mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Santri belajar adab, akhlak, dan spiritualitas melalui pengamatan langsung terhadap Kyai mereka. Dengan demikian, Sistem Tradisional pesantren memastikan bahwa ilmu agama tidak hanya dipelajari dari buku, tetapi juga dihayati dan diamalkan.