Menerapkan strategi meningkatkan literasi membaca kitab kuning dimulai dengan mengubah metode pengajaran menjadi lebih interaktif dan kontekstual. Di Nurul Yaqin, pengenalan nahwu dan sharf tidak lagi hanya sekadar hafalan rumus, tetapi langsung dipraktikkan melalui pembedahan isu-isu kontemporer yang ada di masyarakat. Para pemuda diajak untuk melihat bagaimana solusi atas masalah modern ternyata sudah dibahas oleh para ulama terdahulu dalam kitab-kitab mereka. Dengan melihat relevansi tersebut, rasa ingin tahu para pemuda terpantik kembali untuk menggali lebih dalam warisan intelektual Islam yang sangat kaya tersebut.
Membaca dan memahami kitab kuning adalah ciri khas dari pendidikan pesantren yang tidak boleh luntur dimakan zaman. Namun, di era digital di mana informasi sering disajikan secara instan dan visual, minat pemuda untuk mendalami literatur klasik sering kali mengalami penurunan. Pondok Pesantren Nurul Yaqin menyadari tantangan ini dan mulai merumuskan pendekatan baru agar kajian kitab klasik kembali diminati oleh generasi milenial dan Gen Z. Di tengah persaingan prestasi, pesantren ini juga memberikan motivasi berprestasi akademik kepada para santri agar mereka yakin bahwa keahlian membaca kitab kuning memiliki nilai tawar yang tinggi di dunia pendidikan tinggi maupun profesional.
Selain metode belajar, penyediaan fasilitas perpustakaan yang nyaman dan modern juga menjadi bagian dari strategi meningkatkan literasi. Perpustakaan Nurul Yaqin kini dilengkapi dengan katalog digital dan ruang diskusi yang santai, sehingga membaca kitab tidak lagi terkesan sebagai aktivitas yang kaku dan membosankan. Penambahan koleksi kitab-kitab kontemporer yang merupakan syarah (penjelasan) dari kitab klasik juga memudahkan para pemula untuk memahami isi teks asli. Pesantren juga rutin mengadakan lomba baca kitab kuning tingkat regional untuk memberikan apresiasi dan memacu semangat kompetisi yang sehat di kalangan santri dan pemuda sekitar.
Pemanfaatan teknologi juga tidak luput dari strategi Nurul Yaqin. Penggunaan aplikasi pendukung belajar bahasa Arab dan kelas online memungkinkan santri untuk mengulang pelajaran secara mandiri di luar jam sekolah. Rekaman kajian kitab dari para kyai diunggah ke platform media sosial sebagai konten edukasi singkat yang menarik. Hal ini bertujuan untuk mendekatkan kitab kuning ke dalam ekosistem digital yang setiap hari diakses oleh para pemuda. Literasi tidak hanya dibangun di atas kertas, tetapi juga melalui layar gawai, selama konten yang disampaikan tetap menjaga marwah dan keaslian ilmu dari sumber aslinya.