Kerusakan lingkungan yang terjadi secara global saat ini telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Krisis iklim, pemanasan global, hingga hilangnya keanekaragaman hayati bukan lagi sekadar isu di jurnal ilmiah, melainkan realitas yang mengancam keberlangsungan hidup manusia. Menghadapi tantangan ini, Pondok Pesantren Nurul Yaqin mengambil langkah progresif dengan menghadirkan sebuah narasi keagamaan yang solutif, yaitu melalui penguatan konsep Teologi Hijau. Pandangan ini menekankan bahwa iman seseorang tidak hanya diukur dari hubungan vertikalnya dengan Sang Pencipta, tetapi juga dari tanggung jawab horizontalnya dalam menjaga dan merawat bumi sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Implementasi dari kesadaran spiritual ini diwujudkan melalui sebuah gerakan nyata berupa aksi pelestarian alam yang masif dan terstruktur. Para santri dan pengurus pesantren menyadari bahwa khutbah tentang kebersihan dan kelestarian lingkungan tidak akan memberikan dampak besar jika tidak dibarengi dengan praktik lapangan yang nyata. Oleh karena itu, kurikulum di Nurul Yaqin mulai mengintegrasikan nilai-nilai ekologi ke dalam setiap sendi pendidikan. Santri diajarkan bahwa menanam satu bibit di atas tanah yang tandus memiliki nilai pahala yang setara dengan ibadah sosial lainnya, karena oksigen yang dihasilkan akan bermanfaat bagi ribuan makhluk hidup lainnya.
Salah satu program unggulan yang menjadi motor penggerak gerakan ini adalah penanaman ribuan bibit produktif dan pelindung di sekitar lahan pesantren dan wilayah kritis sekitarnya. Namun, yang membuat program ini unik adalah model pembiayaannya yang menggunakan skema wakaf pohon. Jika biasanya wakaf identik dengan bangunan masjid atau tanah pemakaman, di Nurul Yaqin, masyarakat diajak untuk berwakaf dalam bentuk tanaman yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis jangka panjang. Setiap pohon yang ditanam diberikan identitas pewakafnya, menciptakan ikatan emosional antara manusia dan tumbuhan yang ia tanam untuk masa depan generasi mendatang.
Konsep pohon sebagai instrumen wakaf merupakan terobosan cerdas dalam memaksimalkan potensi ekonomi umat sekaligus memulihkan ekosistem. Pohon-pohon yang dipilih umumnya adalah tanaman buah atau kayu keras yang memiliki daya serap karbon tinggi. Hasil panen dari pohon-pohon ini nantinya dapat digunakan untuk membiayai operasional pendidikan para santri yang kurang mampu, sehingga manfaatnya bersifat ganda: melestarikan alam (ekologi) sekaligus membantu sesama (sosial-ekonomi). Inilah inti dari teologi yang membumi, di mana ajaran agama menjadi mesin penggerak bagi kesejahteraan masyarakat secara holistik di lingkungan Nurul Yaqin.